Mereka Menyebutnya Quality Time

“Quality time!”

Caption dari sebuah foto yang di unggah di sosmed oleh Lilly.

Foto itu diambil ketika Lilly dan sahabat-sahabatnya sedang bertemu di sebuah kafe mewah di daerah Seminyak, Denpasar. Setelah sekian lama keempat sahabat ini tidak bertemu, sore ini akhirnya mereka bisa bertemu kembali.

Lilly sudah menunggu di meja yang terletak disudut ruangan dengan jendela disisi kanannya, beberapa pajangan cantik d isisi kiri dan dinding di belakang Lilly dihias dengan wallpaper bertema shabby chic. Satu persatu sahabat Lilly berdatangan, Mia, Sita, dan Disti. Mereka menyapa, tertawa, berpelukan kemudian duduk meletakkan tas dan mengambil gadget mereka masing-masing. “Checkin dl ahh” Kata Disti. “Tag kiat-kita juga, Dis” sahut Lilly. Tak lama kemudian seorang pramusaji datang membawa menu lalu mencatat pesanan, dan kemudian berlalu ke ruang dapur.
Sembari menunggu mereka berbincang-bincang dengan tangan masih menggenggam gadget. Disti sibuk membalas comment pada check-in post di sosmed. Menjawab beberapa pertanyaan dari teman-temannya di sosmed.
A: Dis lu lagi di bali?
B: Duile dis kece bener lu nongki nya di tempat mahal gt.
C: Kak Disti aku mau diajakin kesana jg dong, itu kan tempat paling kece di bali kan?

Sementara Mia sibuk main game, Sita sibuk cek barang-barang branded di Olshop sambil menunjukkan ke Lilly beberapa fashion item yang dia bilang “MUST HAVE ITEM!”. Dan lilly sedang sibuk membalas chat.

20 menit berlalu seorang pramusaji datang membawa hidangan-hidangan lezat yang ditata cantik dan mahal lah pastinya. “Eh bentar-bentar gue foto dulu, Mia tangan lu minggir, Lilly jangan diminum dl kali, Sita itu kue lu agak miring posisinya lurusin dikit.” perintah Disti. Setelah mengambil foto Disti lalu tenggelam lagi dengan gadgetnya untuk menggunggah foto makanan tadi. “Wuih likenya banyak benerrrrr” ucap Disti puas. “Kitanya groufie dulu kali” sambung Lilly. Cekrik, cekrik, cekrik, cekrik. “Lilly, pilih foto yang kita-kita keliatan cantik ya, abis itu tag gue” kata Mia. Lalu Lilly mengunggah salah satu foto terbaik dengan caption “Quality Time”. Dan kemudian mereka tenggelam lagi dalam layar berukuran sekitar 4 – 6 inch ditangan kanan dan tangan kiri sesekali memasukkan makanan ke dalam mulut. Begitu terus… ada yang tersenyum, manyun, cekikikan, BT tapi dalam dunia maya mereka masing-masing. Kata mereka ini quality time, tapi tak ada pembicaraan mendalam. Hanya saling sapa, basa-basi, check in, memfoto makanan, selfie, groufie, dan sibuk kembali dengan gadget. Inilah latah teknologi, latah status sosial, latah dengan pencitraan. Mereka salah memahami arti “Quality Time” yang seharusnya menjadi waktu untuk bertemu, saling berbincang, curhat, mengenang masa-masa indah terdahulu, berbagi pengalaman. Coba pikirkan lagi ketika anda memposting foto ber-caption “Quality time” lalu sibuk membalas comment pada foto itu saat Anda tengah menikmati Quality time itu sendiri. Bukankah apa yang sedang anda nikmati adalah foto itu dan bukan kehangatan bersama sahabat-sahabat Anda? Ini bedanya berfoto menggunakan kamera jadul waktu jaman SD dulu dengan berfoto menggunakan gadget mahal anda sekarang. Dulu kita tamasya menikmati kebersamaan bersama teman-teman, berfoto untuk mengabadikan moment kemudian kembali bermain menikmati keseruan bersama-sama. Foto itu akan kita lihat sebulan kemudian, dengan tersemnyum mengingat kejadian saat foto itu diambil, ketika bermain bersama teman-teman. Coba renungkan.

Semoga mengerti maksud saya 🙂

 

NB: Cerita ini adalah sebuah ilustrasi. Nama tokoh dan lokasi hanya karangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s