Judging someone at the first sight is my skill

Don’t judge a book from it’s cover. What do you think?
Yup, benar. Nggak baik menilai orang dari luarnya aja. Kadang orang udah berpenampilan macho ga taunya lekong. Ulala… atau rambut panjang, rok seksi, pinggul bohai ternyata lakik. Oh man! Hahaha but that’s not what I mean.

Judging disini maksudnya waktu kenalan sama orang, liat penampilannnya, posturnya tubuhnya, sorot matanya, baju yang dipakai, sandal yang di pakai(anyway ada lho yang ngebahas kepribaian orang dari jenis sandal yang suka dipakai), tas yang dipakai, lanjut ke suaranya, nada bicaranya, bla bla bla… Dari situ kita bisa menilai seperti apa tabiat dari seseorang yang baru beberapa menit kita kenal. Yakin bisa?

Well, saya bukan psikiater atau mahasiswa jurusan psikologi atau bahkan bukan peramal. I’m just ordinary people, my profession is a web programmer(promisi dikit). But I have a strong feeling about what I see at the first time. Saya kadang menghindari kebiasaan ini karena nggak baik menilai orang dari luarnya aja. Belom juga apa-apa masak udah tau aja tabiat itu orang kayak gimana. Yaelah sok banget! Kemudian saya mencoba melakukan riset diam-diam mulai saya SMP.

Awalnya gini, kalo anak jaman sekolahan kan pasti ada saatnya jadi murid baru kan. Otomatis kita harus kenalan sama orang-orang baru, mau ga mau, kl ga mau itu sih urusan lo jd kambing congek di sekolahan. Jadi ya gitu..saya kenalan dengan satu orang dengan ciri: mata tajem, bibir tebel, rambut lurus, idung agak gede. Trus sekali liat aja saya sudah punya definisi ini orang kayak gimana. Kalo otak saya diibaratkan software komputer nih jd begitu di-submit langsung deh tuh keluar hasilnya: “Ini orang pasti jutek abis, sok tau, sok berkuasa, suka musuhan, nyinyir, ga asik”. And then kenalan nih… Trus trus? Nggak meleset cuy! Ini baru sekali, masih perlu trial and error berkali-kali untuk mencetuskan ini sebagai bakat. Bakat yang ga penting bgt yee.. heleh.

Saya nggak mempelajari ini dari sebuah buku atau artikel tentang cara menilai kepribadian seseorang. Kebiasan buruk ini (let me call my skill to judging someone as “kebiasan buruk”) saya pelajari dari orang-orang sekitar yang telah saya kenal cukup lama, dari film, dari artis2 yang kehidupannya dikupas abis di TV, dari novel, yang paling berpengaruh sih dari orang-orang yang pernah saya kenal. Saya merekam banyak hal dari mereka dan menyimpannya dalam sebuah memory yang menjadi dasar pertimbangan saya menilai seseorang. Mungkin bukan cuma saya yang punya kebiasan buruk ini. Tiap orang lewat diliatin trus dalam hati berceloteh ini itu. Haha… siapa suruh lewat depan mata saya, kena capture deh lo hehe. Seiring waktu saya bertemu dengan lebih banyak orang. Kemudian berkenalan, menilai dari luar, berteman, mengenal hingga memahami(kadang kalo bablas sampai mencintai, ups!). Itu yang coba saya lakukan selama ini untuk mengukur seberapa akurat penilaian saya diawal.

Bila diminta untuk membuat list tentang apa dan siapa saja yang pernah saya nilai saya rasa ini sulit. Saya bahkan kadang nggak tau kenapa orang yang punya badan gemuk dan suara nyaring selalu saya nilai sebagai orang yang nyebelin, cerewet dan sok asik. Dan bener aja beberapa yang saya kenal begitu lho sifatnya. Ada terlalu banyak kombinasi penilaian yang ga bisa dijelaskan secara implisit. Jadi saya punya kotak-kotak jenis manusia berdasarkan tampilan luarnya. Kotak-kotak? Apaan lagi sih ni?! Jadi gini lho, kotak-kotak itu maksudnya saya mengelompokkan orang berdasarkan tampilan luarnya. Misalnya kelompok orang gemuk bawel, orang bersih rapi, orang kucel ga karuan, orang kalem dll. Sekali liat saya bisa men-drag orang tersebut kedalam kotak yang tepat dan dalam kotak itu mereka dinilai abis-abisan sampe saya tau ini orang pasti begini sifatnya. Ya gitu lah kurang lebih.. pada ngerti nggak yang saya rasain? hehe nggak ya? Mungkin saya aneh. Tapi ada satu orang yang bisa dibilang sebelas dua belas sama saya, dia kakak kandung saya. Satu cetakan, satu didikan, satu bulan lahir, satu zodiak. Kami sama-sama Gemini. Kalo dibaca-baca dr primbon katanya sih emang bawaan Gemini sifatnya begini. I mean memiliki “kebiasaan buruk” ini. Bener gak? yang Gemini mana suaranya?

image taken from http://www.pinterest.com/pin/233483561906785503/
image taken from http://www.pinterest.com/pin/233483561906785503/

Hari ini waktu saya nulis postingan ini nih… saya lagi throw back ke lima tahun lalu. Jaman ospek kampus. Saya coba inget tampang culun temen-temen waktu kepalanya musti diplontos dan yang cewek poni mesti dipotong dua jari diatas alis. Kadang kl ke-gap senior sadis disuruhnya tiga jari cuy. FYI saya kuliah di fakultas teknik. Dengan tampilan yang hampir mirip satu sama lain dan pakai seragam pula, saya masih bisa mengandalkan si kebiasaan buruk untuk menerobos kepala-kepala plontos itu(maksudnya tampang mereka kan mirip-mirip nih pas lagi ospek tp tetep aja saya bisa nge-judge, parah!). Ada satu orang yang saya inget banget senyumnya. Sekali liat senyum itu saya tau ini orang bakal jadi public enemy 4 tahun kedepan. Temen-temen kampusku kl lagi baca coba tebak siapa pria bersenyum memikat ini(baca: minta ditabok!). Ada yang dari sebelum diplontos udah pernah ketemu trus udah minta map sama saya. Bukan satu map aja tapi dua. Ga sopan. Dari hari itu saya menilai pria ini bakal jadi orang terkocak dan ter-ngerepotin sekampus, tapi ada satu feeling yang berbisik “he will be your best friend”. I don’t know. Feeling itu tiba-tiba aja mencuat. And then NIM saya beda dua digit sama dia. He is my partner in crime, yang selalu ngerepotin saya tiap saat but at the same time saya menariknya ke kotak sahabat. Satu lagi ni NIM-nya juga sebelahan sm saya, tubuhnya tinggi tegap, rahang tegas, bersih, and then he smile at me. I drag him to the pink box directly. Kotak pink? Hehehe.. do you know what I mean? Kadang saya gampang banget jatuh cinta. Pria satu ini dimata saya penuh aura positif. Tapi kali ini bukan si kebiasaan buruk yang menilai, tapi hati saya. Duileee

Well guys ada yang punya “kebiasan buruk” kayak gini jg gak? Atau kalian punya “kebiasaan buruk” lain mungkin? Nikmatilah… kadang saya berterimakasih sama diri saya sendiri, dengan mudahnya saya bisa menjauhi orang-orang yang memang perlu dijauhi. Kata ortu baik-baiklah memilih teman. Teman yang baik akan membawamu ke arah yang baik, begitu sebaliknya. Untuk orang-orang yang dekat dengan saya, selamat kalian masuk ke kotak terbaik dalam hidup saya (^__^)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s