Jangan Simpan Hadiah Dariku

Pagi ini aku terbangun dengan penuh kebimbangan. Besok adalah hari ulang tahun pria yang paling aku inginkan. Satu tahun yang lalu aku pernah memiliki rencana untuk memberikan sesuatu di hari ulang tahunnya. Kenapa harus menunggu begitu lama hanya untuk memberi sebuah hadiah? Apa sebenarnya yang aku takutkan? Bukankah hanya sebuah kado ulang tahun untuk teman? Teman? Masihkah aku dianggap teman? Ahh terlalu banyak yang aku pikirkan…

Satu tahun yang lalu kami masih satu meja di kampus. Melalui begitu banyak hal. Hari ini bertemu dia, esok pun masih harus bertemu. Kami berteman baik. Tapi aku menyukainya lebih dari sekedar teman.

Awalnya aku pikir hanya sekedar mengagumi, tapi semakin lama semakin dalam hingga akhirnya tak bisa bila dia tak ada. Dia memang pantas dikagumi. Sepertinya dia memiliki kharisma untuk dicintai. Terlalu berlebihan memang. Tapi sudah kubuktikan berkali-kali. Bahkan wanita yang sudah memiliki kekasih dan berpacaran selama bertahun-tahun pun bisa jatuh hati dengannya. Entah siapa yang salah dalam hal ini. Cinta kah yang salah? Lalu bagaimana dengan pernyataan bahwa “cinta tak akan pernah salah” ?

Sudahlah kita tinggalkan wanita-wanita yang pernah mencoba mendekatinya. Sebelumnya bolehkah aku sebut pria ini “Si Besar”. Tubuhnya tegap dan tinggi. Cukup atletis untuk ukuran pria ditambah lagi dengan wajahnya yang tampan dan dia cerdas. Ini deskripsiku tentang “Si Besar”, sekarang bisa dibayangkan seperti apa dia dan mengapa aku begitu menginginkannya. Si Besar adalah panggilannku untuknya, dan “Kecil” adalah panggilannya untukku. Terdengar sangat akrab bukan? Memang seperti itu adanya, tapi sayang…dia hanya menganggapku teman biasa. Karena itu aku hanya menyimpan perasannku, hingga saat ini.

Makin siang rupanya, pekerjaan di kantor mengantri seperti barisan penonton di loket bioskop. Sejak pagi tadi aku tak henti memikirkan tentang hadiah itu. Seharusnya bisa dibuat mudah. Tapi hari ini berbeda dengan satu tahun yang lalu ketika rencanaku begitu bulat. Di ulang tahunnya yang ke-23, sudah ada wanita lain disisinya. Mahasiswi fakultas hukum, kaya, cantik, menarik. Wanita yang baru dikenalnya tak lebih dari setengah tahun. Huhhhh…
Aku menjadi begitu bimbang karena wanita ini. Bagaimana perasaannya bila ada wanita lain memberikan hadiah ulang tahun untuk kekasihnya? Dia pasti akan kesal, marah dan cemburu. Aku juga wanita, karena itu aku menjadi sangat bimbang. Kutunggu hingga sore, berharap niat ini meredup. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi karena rencana bodohku ini. Aku lupakan sejenak. Diperjalanan pulang, hatiku semakin kacau, perang batin pun terjadi. Satu sisi aku begitu mempertimbangkan perasaan kekasihnya, disisi lain aku mengingat lagi betapa indahnya rencanaku kala “Si Besar” masih sendiri. Ahh… andai saja hari ini dia belum punya kekasih, pasti tak akan ragu seperti ini. Masih ada 15 menit lagi untuk sampai dirumah dan 10 menit lagi untuk sampai di toko boneka. Masih ada waktu untuk berpikir.

Aku ingin sekali memberikan boneka babi untuknya. “Pig” sebutan lain untuk “Si Besar” karena dulu ia sempat gemuk, hanya aku yang punya panggilan unik ini. Orang lain tak ada yang memanggilnya seperti itu. Jadi rencananya, hadiah ini akan kukirim kerumahnya tanpa nama pengirim, hanya sebuah boneka babi dan kartu ucapan. Paket akan sampai tepat di hari ulang tahunnya atau paling lambat sehari setelahnnya. Aku harap dia akan tau siapa pengirimnya segera setelah paket diterima.

Ahhh tidak… di depan sana sudah nampak toko boneka yang ku maksud. Pertempuran batin belum kunjung usai sampai toko itu terlampaui sekitar 15 meter. Bodohnya aku! Bukankah ini hanya hadiah ulang tahun untuk seorang teman yang sudah saling kenal selama 4 tahun? Apa salahnya? Wajar-wajar saja kan? Ini hanya hadiah untuk teman, hanya kenang-kenangan agar kita tidak saling lupa suatu hari nanti. Niatku kini utuh, sama seperti satu tahun yang lalu. Putar balik!

Boneka babi berwarna Pink mengenakan sebuah pin di lehernya bertuliskan “Pig”. Pas sekali. Keterlaluan sekali bila “Si Besar” tidak segera mengetahui siapa pengirimnya. Kusisipkan sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun dan kado siap dikirim. Pegawai ekspedisi sempat hampir tidak mengijinkan bila tidak ada nama pengirim dan no handphone. “Nggak diisi nama sama nomor handphone pengirim, mba? Hmm wangi sekali, isi paketnya apa ya, mba?”. “Isinya boneka, memang wangi dari tokonya sih, mba. Ini hadiah ulang tahun buat temen, buat surprise gitu, boleh nggak kalo diisi inisal aja tanpa no hp? Kalo ada no hp saya, ntar ketahuan dong mba…”. Paket sudah terkirim. Sekarang tinggal menunggu telepon dari “Si Besar”.

3 Juli 2014. Inilah hari yang paling aku tunggu tahun ini. Selamat ulang tahun “Si Besar”, semoga sukses karir dan kehidupannya. Tulisku di Black Berry Messenger. “Makasih, sa. Ah lama bgt ngucapinnya” dia membalas. Ulang tahunnya kali ini terasa tidak spesial. Ada nada yang tak sama dengan tahun-tahun sebelumnya pada pesan singkat yang ia kirimkan. Tahun lalu ketika salah satu dari kami berulang tahun, pasti ada percakapan panjang di telpon. Aku rindu sekali malam dengan panggilan telpon darinya. Membicarakan hal-hal tak penting, saling cela, salih hina hingga saling memuji satu sama lain. 15 menit telpon kami terputus, salah satu dari kami sigap melakukan panggilan kembali. Ya biasalah provider kartu kami resek, tiap 15 menit nelpon pasti keputus. Malam ini tak kutelpon dia, karena aku tau pasti ada celebration dari kekasih barunya. Jadi kuputuskan untuk mengirim pesan singkat saja. Ya sejak dia bersama wanita itu kita sudah semakin jarang komunikasi. Tidak seasik waktu jaman kuliah dulu.

Sehari kemudian handponeku berdering, “Si besar calling”. Sudah kuduga dia pasti akan menelpon. “Makasih ya kadonya, niat banget sih ngasi boneka babi hahahaha” tawanya di telpon. Ahh senang sekali dia mengetahui si pengirim hadiah. “Simpen ya buat kenang-kenangan. Jangan sampai kotor hehehehe” jawabku. Mission complete! Well done.

Tapi tunggu dulu, keesokan sorenya aku membuka timeline twitter dan lihat lah apa yang ada disini! Sebuah tweetpic dengan caption pedas membakar hati dari sang kekasih “Si besar”. “Cieh yang dapet boneka dari secret admire nya, Disemprotin minyak nyongnyong lagi syang. *hoeks!” caption yang tertulis. Dua retweet, satu oleh teman si wanita, satu lagi oleh “Si Besar”. Oh Tuhan, itu hadiah dariku. Benar feelingku pagi itu, kekasihnya pasti akan marah. Aku merasa bersalah, tapi hati ini sakit sekali. Hadiah itu aku berikan dengan ikhlas untuk Si Besar dan ini adalah rencanaku jauh sebelum dia megenal wanita itu.

Segera aku kirim pesan permohonan maaf kepada “Si besar”. “Aku lihat timeline di twitter, pacar kamu marah ya?”. Iya, jelas saja pacarnya marah. Aku memohon maaf atas kejadian ini. “Bonekanya ga usah disimpen aja, biar ga jd ribut kamunya. Maaf sekali lagi.. jd ga enak”. Si besar bilang pacarnya marah gara-gara hadiahnya dikirim pakai inisial segala, trus harumnya itu lho. Aku jelaskan panjang lebar, itu Cuma hadiah dari teman saja tanpa maksud lain, aku pun tau dia sudah memiliki kekasih, sudah kupikirkan juga bila hal ini mungkin akan terjadi. Tapi bukankah aku masih temannya? Apa salahnya bila kukirimkan hadiah untuk teman yang sudah begitu baik kepadaku selama 4 tahun ini. Pesan terakhirku hanya di-read. Dan itulah terakhir kalinya kami berkomunikasi. Empat tahun yang begitu akrab berakhir disini karena sebuah “hadiah ulang tahun untuk seorang teman”.

Kembali kudapati tweet pedas lainnya dari kekasih Si Besar, “Gak tau diri yaa. Bitch!”. Ya Tuhan, sehina apa aku sampai dia menyebutku seperti itu? Siapa wanita ini empat tahun kemarin? Kenapa selancang itu menyebutku dengan kata-kata kasar? Kemana Si Besar? Kenapa Si Besar membiarkan kekasihnya melontarkan kata-kata tak sopan itu kepadaku? Tidak pantaskah aku untuk dibela? Sudah lupakah kamu siapa aku? Apa aku bukan temanmu lagi? Seberapa murka kekasihmu hingga kau membiarkan kekasihmu menghina temanmu sendiri? Tidak taukah dia betapa pentingnya aku 4 tahun kemarin untukmu? Wanita itu bahkan tak tau kamu tak suka coklat, di hari ulang tahunmu dia berikan tart coklat untukmu! Dia belum mengenalmu! Semudah itukah cinta membutakan matamu? Aku kecewa, sangat kecewa. Kata-kata kasar dari kekasihmu mungkin bisa segera aku lupakan. Tapi satu yang akan sulit untuk aku lupakan, kekecewaanku terhadapmu sebagai seorang teman. Kau biarkan kekasimu yang belum lama kau kenal menghina seorang teman yang selama 4 tahun ini bersama.

Tunggu sebentar, mungkin aku salah. Mungkin hanya aku yang menganggapmu teman baik dan tidak sebaliknya. Ya sepertinya begitu. Sepertinya benar bahwa hanya aku yang terlalu berlebihan menafsirkan baiknya dirimu selama ini, hingga kau tega membiarkanku menerima kata-kata tak sopan dari gadismu. Lupakan saja cerita kita selama ini, kau yang kukenal selalu baik kepadaku. Kau yang dulu sudah berubah. Jangan simpan hadiah dariku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s